Bagi Umar bin Khattab ra, kekuasaan bukanlah kehormatan, melainkan beban dan tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik. Dia tidak pernah memintanya, kecuali pada satu kesempatan, yaitu ketika Rasulullah SAW, bersabda pada perang Khaibar :

    “Aku akan serahkan bendera ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Melalui kedua tangannya Allah berikan kemenangan.” Umar berkata: “Aku tidak pernah menginginkan kepemimpinan selain hari itu. Maka aku melompat-lompat dengan harapan aku dipanggil untuk diserahkan bendera itu.” Ternyata yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW adalah Ali bin Abi Thalib (HR. Muslim).

Yang membuat Umar tergiur dengan kepemimpinan yang akan diberikan oleh Rasulullah SAW bukanlah posisi kepemimpinannya itu sendiri. Ia tergiur karena Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang akan membawa bendera itu adalah orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Tidak heran jika sejarah kekhalifahan Umar bin Khattab sarat dengan kisah-kisah indah yang memproyeksikan ketinggian konsep Islam.

    Dari pidato resmi ketika ia dilantik sebagai khalifah, tergambar corak pemerintahan yang akan dijalankan: ” Wahai saurdara-saudara! Saya telah kalian pilih, padahal saya bukan yang terbaik diantara kalian. Maka, jika saya berada dijalan yang benar, dukunglah saya. Sebaliknya, jika saya menyimpang dari kebenaran luruskan-lah! ” Baru saja Umar selesai bicara, salah seorang hadirin angkat bicara: “Wahai Umar! Andai nanti kami melihat ada penyimpangan pada dirimu dalam menjalankan pemerintahan, niscaya akan kami luruskan dengan ujung pedang.”

    Mendengar kata-kata pedas itu, Umar yang terkenal tempramental, malah berkata : “Alhamdulillah, ternyata masih ada orang yang sudi meluruskan saya dengan ujung pedang!”

    Ketika Umar bin Khattab ingin memperluas masjid Madinah, ia meminta Al-Abbas paman Nabi SAW untuk menjual rumahnya yang kebetulan bersebelahan dengan masjid itu. Namun Al-Abbas menolaknya. Kemudian Umar berkata : “Kalau demikian hibahkanlah kepada kami!.” Al Abbas menolak. “Atau engkaulah sendiri yang menggabungkannya ke masjid!.” Al Abbas tetap menolak. “Engkau harus pilih salah satu diantara yang tiga !” Kata Umar tegas.

    Akhirnya mereka bersepakat mencari penengah. Dipilihnya Ubai bin Ka’ab. Ia memberikan penjelasan dan berkata kepada Umar : “Menurut pendapatku, engkau tidak berhak mengusir dia dari rumahnya kecuali jika ia rela.”

“Adakah fatwamu itu berdasarkan kitab Allah atau sunnah Rasulullah?” Jawab Umar. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Sulaiman bin Daud ketika membangun Baitul Maqdis, setiap kali ia membangun dinding, selalu rubuh kembali. Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya bahwa ia tidak boleh membangun di atas milik orang lain sampai ia merelakannya.”

    Maka Umarpun tak lagi memaksa. Padahal yang ia bangun bukan gedung pribadi atau peristirahatan mewah. Bukan pula tempat hiburan untuk pemuas nafsu pribadi. Dia tidak berani sembarang menggusur. Akhirnya al-Abbas sendiri yang mem-perluas masjid itu dengan rumah miliknya.

Demikianlah bila kekuasaan dipegang oleh orang yang menyadari bahwa Allah pemilik mutlak. Berbeda seperti langit dan bumi dengan apa yang dilaksanakan oleh Fir’aun.

(Diambil dari Lembaran Da’wah Hanif No.009 Tn.VIII, 11 Syawal 1416 H/01 Maret 1996 )

Oleh: M. Faruq Anshori