Dahulu kala hiduplah hewan-hewan rimba di hutan rimba yang sangat luas. Mereka hewan-hewan yang dapat berbicara seperti manusia. Pada suatu hari Peri Penjaga Hutan mengumpulkan penghuni rimba.

“Wahai seluruh penduduk hutan, di bumi ini ada makhluk lain yang tercipta selain kita, makhluk itu bernama ‘Manusia’. Mereka akan berbicara dengan bahasa yang kita gunakan sekarang. Oleh karna itu carilah bahasa dan suara baru yang kita pakai mulai saat ini!” Perintah peri penjaga hutan.

Semua penghuni rimba terkejut, “Peri suara apa yang harus kami pakai?” tanya seekor Singa.

“Carilah suara yang akan menjadi ciri khas dari kalian masing-masing!”

“Peri, tapi kita tidak bisa mencari suara saat ini juga, terlalu cepat bagi kami”, ujar Singa mewakili teman-temannya.

“Aku mengerti. Kalian diberi waktu satu minggu. Dan berkumpulah kembali di sini untuk memberitahu padaku dan pada seluruh penghuni rimba suara baru kalian.”

Kemudian para penghuni rimba pun kembali ke tempat mereka masing-masing. Mereka mulai berpikir keras suara apa yang cocok untuk dirinya. Hari demi hari penduduk hutan sibuk mencari suara yang akan mereka pakai selanjutnya.

Singa sang Raja Hutan telah lebih dulu menemukan suara yang cocok dan gagah untuk dirinya.

“Aoooouuummm,” katanya dengan gagah memamerkan suaranya. Semua penduduk hutan senang mendengarnya, terdengar gagah untuk si Raja Hutan.

Tiba-tiba, “Hahahah, seperti orang sakit gigi” cetus Beo sambil tertawa terbahak-bahak. Singa pun malu mendengarkan kata si Beo.

Hari demi hari dilewati Beo untuk menghabiskan waktu mengintip teman-temannya dan mengejeknya.

“krik..krik..krik..” Jangkrik mencoba suaranya.

“Hahaha, hai Jangkrik suaramu seperti pintu yang tak diminyaki,” ledek Beo kepada Jangkrik.

“Ssssssssss……,ssssss……” Ular juga mencoba suaranya.

“Hei, ban siapa yang bocor, hahahaha” teriak Beo meledek ular.

Begitu kerjaan Beo setiap hari, meledek teman-temannya tanpa mengingat tugasnya untuk mencari suara dirinya. Semua penghuni hutan menjauhi Beo agar tidak diledek olehnya, tapi Beo selalu saja menemukan temannya dan menirukan suaranya dengan nada meledek.

“Mbeeeeek….kau sedang cari ibumu..hahah.” Tirunya meledek kambing

“Ngok…Ngook…dengkuran siapa itu?hahahah.” Tirunya ketika meledek Babi.

Tak terasa sudah satu minggu berlalu, seluruh penghuni rimba berkumpul untuk mengumumkan suara yang mereka pilih. Peri memanggil mereka satu persatu. Hanya Beo saja yang masih tertawa.

“Hahahaha…..suara kalian lucu-lucu sekali, membuat perutku sakit.” Beo tertawa terbahak-bahak.

Tibalah giliran Beo untuk mengumumkan suara barunya. Ia maju kedepan.

“Mbeeeeek…” Jeritnya.

“Heiiii, itu suaraku.” Kata kambing.

“Moooo…guk guk…..meoooong…..” Beo panik, ia menirukan semua suara yang pernah ia dengar. Tentu saja sapi, kambing, anjing, kucing dan semua teman-temannya tertawa terbahak-bahak mendengar siakp Beo.

Beo tertegun, ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejek teman-temannya. Sehingga ia lupa mencari suaranya sendiri.

“Hik, hik, hik (suara menangis) saya malu, saya tidak punya suara, saya hanya mengejek teman-teman saja.” Beo mengaku.

“Teman-teman maafkan aku yang sudah meledek suara-suara kalian.” Pinta Beo.

Dengan senyum Peri penjaga hutan berkata, ”Sudahlah, kamu akan tetap kuhadiahkan sebuah suara, tapi sebagai pelajaran karena kelalaianmu, kau akan tetap menirukan suara orang, sehingga kau akan ditertawakan selamanya.”

Oleh: Maria Erliza

(Bobo No. 8/XXX)