Alkisah kisah seekor anak ikan dan ibunya sedang berenang di dalam lautan. Ibu ikan sedang mengajarkan anak kesayangannya cara menjaga keselamatan diri dalam kehidupan di laut. Ibu Ikan menjelaskan keadaan dan apa saja bahaya yang akan selalu mereka hadapi.

“Ibu, apakah masih banyak masalah yang belum aku ketahui?” Tanya sang Anak Ikan.

“Wahai anakku yang ku sayang, ibu ingin memberikan sebuah cerita yang sang penting untukmu. Sejak zaman dahulu, semua para ikan yang berpengalaman selalu memberitahukan kepada seluruh warga laut ini akan adanya suatu bahaya besar, dan ibu harap kau memperhatikan apa yang ingin ibu sampaikan. Suatu hari nanti, kau akan diuji dengan godaan-godaan yang menipu akal. Kau akan menjumpai cacing yang sungguh enak. Tetapi diujungnya terdapat mata kail yang diikat pada tali yang tidak akan terlihat olehmu.” Cerita sang Ibu Ikan kepada anaknya.

“Cacing itu terlihat sungguh lezat sehinggakan kau takan berpikir itu semua adalah tipu muslihat manusia untuk menculik kau ke alam lain yang penuh sengsara.” Lanjut sang Ibu Ikan.

“Alam apa itu ibu?” Tanya sang Anak Ikan.

“Jika kau terjerumus ke perangkap manusia itu. Leher kau akan disantap oleh besi yang berbentuk tajam dan kau akan merasa kesakitan yang luar biasa. Kemudian, mereka akan menarik kau ke luar dari lautan ini. Dan kau akan dicampakan seperti sampah di perahu mereka. Kau akan merasa sesak kerana kau bukan lagi dikelilingi oleh air tetapi udara.” Jelas sang Ibu Ikan.

“Siksaan mereka belum selesai, manusia itu mengiris daging dan meletakkan garam dan pedihnya ibu tak dapat bayangkan..,” lanjut sang Ibu menjelaskan kepada Anak Ikan.

“Lalu, apalagi yang akan mereka lakukan bu?” Tanya sang Anak Ikan penasaran.

“lalu merekan akan menurunkanmu ke dalam minyak yang panas, sehingga percikannya bisa menghancurkan kulitmu yang halus itu. Terakhir kau akan dimakan dan dikunyah oleh gigi-gigi manusia yang tidak mengenal arti belas kasihan itu.” Sang Ibu Ikan mengakhiri ceritanya.

”Ah ibu penakut, dikiranya aku ini bodoh, tidak bisa mengurus diriku sendiri.” Jawab sang Anak Ikan dengan remeh.

Hingga di suatu hari anak ikan bermain-main dengan kawan-kawannya. Mereka melihat seekor cacing yang sangat besar, tampak lezat dan mengiurkan.

Semua ikan-kan itu telah mendengar cerita dari orang tua masing-masing. Hanya baru sekarang melihatnya dengan mata sendiri. Masing-masing menolak satu sama lain dan saling melarang kawannya agar tidak pergi memakan cacing itu. Namun si Anak Ikan yang tidak yakin dengan cerita ibunya mendekati cacing tersebut.

“Ahhhh…masak benar kata-kata ibuku. Makanan selezat ini tidak akan mendatangkan apa-apa kecuali perutku akan kenyang.” Pikir si Anak Ikan tersebut.

Lalu si anak itu membuka mulutnya luas-luas dan dengan rakusnya memakan cacing itu. Tiba-tiba mulut dan lehernya terasa kesakitan sekali. Ia berusaha keras melepaskan diri. Namun usahanya sias-sia, si anak ikan tadi merasa menyesal dan sedih dalam dirinya. Kerana dia tahu apa yang dikatakan ibunya memang benar. Hanya segalanya sudah terlambat, karena ia tidak patuh pada nasehat ibu.