Di sebuah desa di pesisir pantai hiduplah seorang nelayan, setiap datang pagi nelayan itu bersiap-siap untuk mencari ikan dengan pancingan dan sampan sederhananya. Tidak setiap hari ia mendapatkan banyak ikan, tetapi keluarganya harus selalu ia nafkahi.

Suatu ketika sang nelayan pergi mencari ikan, namun tak satu ikan pun yang tersangkut kail pancingnya. Sang Nelayan tetap sabar menunggu hingga akhirnya seekor ikan tersangkut dikail pancingnya. Ditariknya kuat-kuat pancing itu, lalu ketika ikan itu akan dimasukkan ke dalam ember, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari kejauhan.

“Hai!!!berikan ikan itu padaku!!!” Kata orang itu sambil bergegas mendekati sang nelayan.

“Tapi ikan ini hasil tangkapanku, tuan.” Jawab sang nelayan.

“Masa Bodoh!!” Teriak orang itu seraya merampas ikan itu dari tangan nelayan dengan kasar.

“Jangan tuan, saya harus membawa ikan itu pulang untuk keluarga saya.” Nelayan memohon.

“Kau cari saja lagi!!” Kata orang itu, dan pergi meninggalkan sang nelayan.

Nelayan yang lemah itu hanya menatap orang yang merampas ikannya pergi meninggalkan tempat itu dengan pandangan kosong.

“ya Allah, mengapa kau ciptakan aku sebagai orang yang lemah. Dan kau ciptakan orang lain yang lebih kuat dan gagah, yang kau datangkan kepadaku untuk menguji kesabaranku, dan berbuat sewenang-wenang kepadaku. Ya Allah ciptakanlah makhluk lain yang lebih kuat darinya, yang dapat mengalahkannya agar menjadi pelajaran dan peringatan padanya.” Ratap nelayan itu dalam do’anya.

Ketika nelayan sedang meratapi kemalangannya, orang kasar itu sedang asik membakar hasil rampasannya tanpa rasa penyesalan. Dengan nafsunya ia memakan ikan hasil rampasannya yang telah ia bumbui dan ia bakar. Namun malang baginya, ketika sedang asik memakan ikan itu, sebuah duri mencocok jari tangannya.

“Ahhhhhh!!!!” Orang itu memekik kesakitan

Dengan izin Allah, jari yang terkena duri ikan itu makin pertambah lukanya. Luka yang menjadi borok itu makin membesar dan merambat ke lengan tangannya. Bahkan akibat lukanya sampai dilakukan pemotongan sampai sebatas sikunya.

“Ya ampun aku sudah pergi ke semua Dokter di desa ini, kenapa tidak ada yang bisa menyembuhkan lukaku. Sudah buntung pula tanganku ini.” Tangis orang itu putus asa.

Dalam keputusasaannya. ketika ia tidur, ia bermimpi seorang nelayan yang ikannya telah ia rampas beberapa waktu lalu menemuinya dan berkata,

“Kembalikan hak itu kepada pemiliknya, itu bukan hakmu!”

Orang itu terbangun dan termangu. Hatinya tersentuh mendengar suara nelayan itu dalam mimpinya, rasa bersalahpun menghampiri dirinya.

“ya, itu memang bukan hakku. Aku harus mengembalikan kepada pemiliknya,” orang itu berkata dalam hatinya dengan penuh penyesalan.

Dengan sikap tegas dan hati yang mantap, orang itu bergegas melangkahkan kakinya mencari sang nelayan. Setelah dijumpainya nelayan itu, orang itu langsung menghampirinya.

“Wahai bapak nelayan, maafkanlah sikap kasarku yang telah merampas ikan hasil tangkapanmu. Mungkin karna sikap ku ini membuat bapak menderita dan saya telah mendapatkan balasannya.” Orang itu berkata dengan penuh penyesalan.

“Ini, terimalah uang ini sebagai pengganti ikan yang telah aku rampas!” Orang itu menyerahkan sejumlah uang kepada nelayan.

“Wahai tuan, saya terima permohonan maafmu, semoga menjadi pelajaran berharga dalam hidupmu.”

“Semoga Allah melihat kebaikanmu dan menyembuhkan lukamu,” berkata sang nelayan.

“Terimakasih bapak nelayan.” Orang itu pun pergi meninggalkan sang nelayan dengan hati yang lega, karna sudah terbebas dari rasa bersalah.

Alhamdulillah, atas izin Allah pula, sejak itu luka ditangannya mulai membaik. Kuman-kuman dan ulat-ulat yang menggrogoti tangannya hingga hampir diamputasi lagi sebatas lengan, berangsur-angsur mati dan hilang. Lelaki itu kini telah mengambil hikmah dari apa yang pernah dibuatnya.