Ia bernama lengkap Oktaviani Dewi Gayatri. Perempuan mungil yang penuh semangat ini, lahir pada tanggal 21 Oktober 1974 di Ibukota Jakarta. Ia terlahir sebagai penyandang tunanetra atau anak berkebutuhan khusus. Namun, berkat dukungan orangtua dan semangatnya untuk belajar, ia pun berhasil menamatkan pendidikan terakhirnya pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di Universitas Pasundan, Bandung.

Selama bertahun-tahun Okta mempunyai impian untuk menjadi seorang penulis fiksi. Lewat Komunitas Karya Tunanetra atau biasa disebut Karttunet, impian yang sesekali pernah membuatnya hampir menyerah itu, akhirnya mampu ia capai dengan gemilang. Tentu saja ini berkat proses belajar serta diskusi intensif bersama teman-teman kelompok menulis di bawah bimbingan M. Yesa Aravena, seorang sahabat Kartunet yang memang sangat peduli pada kemajuan tunanetra di bidang menulis. Dari sini juga cita-citanya untuk menjadi seorang pendongeng bermula.

Ketika itu, Okta bersama kelompok menulisnya sedang membuat buku fiksi perdana mereka yang bertema binatang. Dewi, begitu ia biasa disapa oleh keluarga dan sebagian temannya, berpikir alangkah menariknya jika cerita-cerita dalam buku yang kemudian diberi judul “Merpati Berjari Enam” tersebut didongengkan kepada anak-anak. Bahkan ia sampai berpikir untuk menjadi seorang pendongeng. Ia yakin dengan belajar dan latihan terus-menerus, penyandang tunanetra mampu menjadi pendongeng yang baik. Seperti buah durian yang runtuh, seperti itulah ide yang jatuh di kepalanya kala itu.

Tak berapa lama kemudian, akhirnya Okta bersama beberapa rekannya belajar mendongeng kepada seorang teman lama bernama Wiji Puji Lestari yang juga seorang penyandang tunanetra, dan ternyata telah menjadi pendongeng selama bertahun-tahun.

Dari kawannya inilah kemudian Okta yang sewaktu kecil sering dibacakan banyak cerita dan dongeng dari majalah anak-anak oleh ibundanya itu, mengenal Kak Awam dan Kampung Dongeng Ciputat. Ia pun makin memantapkan hatinya untuk terjun ke dunia mendongeng. Lebih-lebih setelah ia mengikuti kegiatan DIKLAT Kemah Dongeng angkatan ke-11, di mana ia mendapatkan materi pelajaran mendongeng langsung di bawah binaan Kak Awam Prakoso dan rekan-rekannya yang luar biasa. Lingkungan Kampung Dongeng yang ramah dan bersahabat, membuat Okta langsung menyambut dengan sangat baik tawaran Kak Awam untuk masuk ke dalam daftar pendongeng di Kampung Dongeng.

Bagi Okta, keterbatasannya adalah anugerah yang tetap harus disyukuri sebab keterbatasannya tidak pernah menghalanginya untuk maju, mempunyai mimpi dan bercita-cita. Karenanya ia berharap, melalui bidang-bidang yang dipilihnya, baik sebagai seorang penulis, pendongeng dan beberapa impian lainnya yang masih menggantung bak bintang di langit sana, ia tetap bisa menjadi manusia seutuhnya yang berguna untuk dirinya, lingkungannya dan juga masyarakat di negerinya yang tercinta ini.